Posisi Kultural Masjid Di Tengah Masyarakat Aceh

mDalam struktur budaya masyarakat aceh masjid merupakan symbol cultural dan keagamaan yang di anggab penting. Sedemikian pentingnya sehingga sebuah gampong seolah belum absah dianggab sebagai suatu entitas geografi dan administrative apabila belum memiliki sebuah masjid. Dalam konteks inilah antuisme warga gampong untuk memilki sebuah masjid di gampongnya dapat di pahami. Gampong terasa belum lengkap tanpa kehadiran sebah masjid, ufngsi umum masjid dalam sebuah masyarakat ialah sebagai tempat untuk melaksanakan shalat jum’at dan meyelenggarakan shalat berjama’ah. Unutk yang pertam merupakan aktifitas umum yang terdapat pada setiap masjid yang ada. Tetapi praktek shalat berjama’ah dilakuakan secara bervariasi. Pada sebagian masjid kegiatan shalat berjama’ah dilakaukan untuk setiap shalat shubuh juga.

Dalam setiap shalat jum’at sebagaimana biasanya khatib menyampaikan khutbah, biasanya khutbah itu berkisar tentang tema yang berkaitan dengan ibadah dan penegtahuan agama secara umum. Yang demikian itu lazim berlaku pada masjid dalam wilayah pedesaan. Sementara paada masjid yang berada di wilayah perkotaan tema khutbahnya menjadi lebih bervariasi. Terkadang masalah masalah actual yang dialamai oleh masyarakat menjadi tema khutbah, dengan kata lain tema khutbah pada masjid yang berada di daerha perkotaan lebih bervariasi di bandingkan dengan masjid yang berada di pedesaan. Agaknya ini terkait dengan karakter warga perkotaan yang lebih punya akses terhadap berbagai imformasi sehingga pengetahuan mereka lebih kompleks, selain juga masalah yang dialami oleh orang kota jauh lebih kompleks di bandingkan dengan problem yang di hadapi warga pedesaan.

Lebih jauh para penceramah di desa denga di kota sering kali juga memiliki perbedaan, umumnya para penceramah di kota merupakan alumni pendidikan tinggi dari perguruan tinggi agama, sementara di desa secara umum para penceramahnya adalah alumni lembaga pendidikan islam tradisional seperti pesantren dan dayah Masjid juga di beri nama sesuai dengan levelnya dikaitkan dengan struktur pemertintah, masjid yang berkedudukan di ibukota provinsi di sebut dengan masjid raya. Sedangkan masjid yang berada di daerah ibukota kabupaten dinamai dengan masjid agung. Pada kedua masji9d ini dikenal dengan adanya pimpinan yang disebut dengan imam besar masjid yang bertanggung jawab dalam struktur organisasi masjid  selain itu biasabnya pimpinan daerah juga menempati posisi tertentu dalam struktur tersebut seperti penasehat atau pelindung. Dalam pada itu masjid yang berkedudukan di ibukjota kecamatan kerap disebut dengan masjid jami’. Berbeda dengan masjid raya dan masjid agung masjid jami’ pada tingkat kecamatan memiliki struktur kepengurusan yang ramping dan lebih sederhana.

Pendanaan Masjid

Kebanyakan masjid yang berada di provinsi nanggroe aceh Darussalam pada umumnya didirikan berdasarkan dana swadaya dari masyarakat. Ada perbedaan dalam pengumpulan dana kalau untuk kebutuhan operasional yang berkaitan dengan kemakmuran masjid seperti membayar biaya transportasi khatib, untuk muazzin, dan petugas kebersihan, pengajian rutin dan kebutuhan incidental kecil lainnya, namun kalau untuk pembangunan fisik masjid  biasanya di bentuk panitia khusus untuk menggalang dana yang besar. Bermacam cara yang di praktekkan masyarakat dalam berpatisipasi untuk pembangunan masjid.

Pertama,

masyarakat melakukan pengumpulan dana pada momen momen tertentu, seperti pada saat bulan ramadhan. Hampir setiap malam pada bulan ramadhan di edarkan tabungan amal pada saat shalat tarawih, tabungan demikian juga di edarkan pada setiap shalat jum’at, shalat idul fitri, dan kesempatan kesempatan lainya.

Kedua,

warga masyarakat mendonasikan bahan bahan yang di perlukan untuk pendirian masjid, sebelumnya panitia masjid membuat proposal sesuai dengan kebutuhan dan proposal tersebut di edarkan kepada masyarakat yang berminat untuk memberikan donasi sesuai denga item item yang dirumuskan dalam proposal.

Ketiga,panitia masjid membentuk tim untuk mencari dana. Tim ini melakukan lobby dengan berbagai pihak untuk mendapatkan dana yang telah direncanakan, terkadang juga dilakukan pengutipan sumbangan yang dilakukan hingga sampai ke luar daerah dimana masjid itu didirikan.

Keempat,

dana yang dikumpulkan dari masyarakat melaului jalur zakat atau wakaf.lazimnya anggota masyarakat menyalurkan zakatnya bai yang zakat fitrah ataupun zakat perdagangan. Dana yang diserahkan ke mesjid itu selanjutnya dimamfaatkan untuk melanjutkan pembangunan masjid.

Pembangunan masjid biasanya tidak dilakukan secara sekaligus melainkan secara bertahab, karena itu lazim terlihat suatu bangunan masjid selalu dalam proses kontruksi dalam jangka waktu yang lama. Tidak jarang sebuah masjid baru dapat diselesaikan setelah lima atau sepuluh tahun bahkan lebih. Dalam masa proses itu pembangunan tersebut sering juga ada bantuan yang di berikan oleh pemerintah baik berupa bahan bahan yang menjadi kebutuhan utama masjid pada waktu itu atau bantuan dalam bentuk dana segar

Selai itu bantuan dana untuk pembangunan masjid secara incidental sering juga di berikan oleh perusahaan  atau pengusaha setempat beberapa perusahaan besar yang beroperasi di provinsi NAD seperti mobil oil Indonesia, PT. Arun, AAF, PT. PIM dan perusahaan lainnya sering juga memberikan bantuan dalam bentuk dana segar ataupun bahan bahan yang di perukan untuk pembangunan.

Bantuan demikian di berikan dengan dua cara. Pertama, perusahaan sendiri yang melakukan inisiatif pemberian yang  di salurkan secara kolektif untuk berbagai rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan. Kedua, penyaluran bantuan didasarkan pada inisiatif yang di lakukan oleh pihak pemohon yang secara khusus mengajukan permohonan untuk memperoleh bantuan

Ini agak berbeda dengan masjid raya atau masjid agung yang biasanya secara kontinyu mendapat bantuan dari pemerintah daerah setempat, konon untuk masjid demikian bahkan pembangunan awalnya dilakukan oleh pemerintah dengan mengalokasikananggaran secara khusus kedalam anggaran pendapatan belanja daerah setiap tahun anggarannya, kadang setelah pembangunan masjid tersebut telah sipa pemerintah juga memberikan bantuan operasional secara berkelanjutan selalin Dario dana yang di peroleh dari sumbangan masyarakat.

Beberapa masjid ada yang berhasil mengembangkan beberapa kegiatan khusus untuk meghasilkan dana yang selanjutnya menjadi aset dana masjid. Upaya upaya yang dilakukan adalah dalam bentuk penyediaan jasa tertentu. Di masjid raya dan masjid agung misalnya di kembangkan jasa pelayanan prosesi pernikahan untuk pasangan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, dimasjid masjid tersebut hampir tiap hari ada yang memamfaatkan jasa tersebut, ada juga penyediaan jasa pelayanan perpakiran untuk masjid yang lokasinya terletak di pusat pusat aktifitas perdagangan, pelayanan jasa yang demikian mampu mengumpulkan dana yang  relative besar.

Aktifitas Memakmurkan Masjid

Masjid dalam kedudukan nya sebagai tempat ibadah memiliki fungsi utama sebagai sarana melakukan aktifitas ritual, bentuk kegiatan ritual yang paling umum dilaksanakan ialah kegiatan shalat jum’at dan kegiatan shalat berjama’ah lima kali dalam sehari. Kegiatan ini di kelola oleh manajemen masjid dan telah menjadi aktifitas rutin yang berlangsung secara kontinyu, selain itu secara individual warga masyarakat juga memamfatkan masjid untuk aktifitas ritual lainya berupa kegiatan iktikaf, ini dilakukan secara pribadi kapan saja dan tanpa adanya perorganisasian oleh pihak manajemen masjid.

Tetapi dalam beberapa waktu terakhir ini ada gejala baru yang berkembang dalam hal pengelolaan iktikaf masjid, melalui remaja masjid akhir akhir ini mengembangkan pogram iktikaf yang dipadukan dengan aktifitas muhasabah, kegiatan dimaksud dilakukan pada waktu tertentu lazimnya di kaitkan dengan pergantian tahun baik hijriah maupun miladiah, remaja masjid memfasilitasi jama’ah untuk melaksanakan iktikaf di masjid pada malam hari menjelang pergantian tahun.

Kegiatan ini diisi dengan aktifitas zikir  dan muhasabah yang di pandu oleh  seotang ustad yang sengaja di undang untuk memandu dan memfasilitasi aktifitas tersebut, fenomena ini hanya di praktekkkan di masjid yang berada di perkotaan dan lazimnya di ikuti oleh para remaja dan mahasiswa. Relative sedikit orang tua yang mengikuti dalam aktifitas ini sementara di masjid masjid yang berada di pedesaan malah tidak di temukan adanya penyelenggaraan kegiatan seperti ini.

Dapat di katakan bahwa hal demikian merupakan salah satu fenomena dari kebangkitan islam di perkotaan, fenomena ini sering disebut dengan gejala kemunculan sufisme kota. Ini dapat di lacak perkembangannya pada tumbuhnya minat yang tinggi di kalangan masyarakat perkotaan untuk mempelajari dan mempraktekkan ajaran agama secara lebih baik. Mereka tidak tertarik pada keberagamaan yang bersifat pengikatan diri secara sangat ketat terhadap mazhab tertentu, melainkan lebih bersifat terbuka dalam keberagamaannya dengan lebih menekankan pada pengamalan pada nilai nilai agama untuk menyempurnakan kepribadian dirinya.

Munculnya kelompok sufisme kota ini tidak terlepas dari pesatnya perkembangan literature tentang islam baik dari penulis Indonesia maupun dari terjemahan dari tokoh islam timur tengah, buku buku tersebut di telaah secara seksama untuk memenuhi kehausan terhadap pengetahuan agama yang berujung pada peningkatan pengetahuan dan pengamalan nilai nilai agama dalam kehidupan sehari hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s