Orang yang berhak menerima zakat menurut Islam

Perintah membayar zazakat-miskinkat diwajibkan kepada setiap umat Islam yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari secara layak. Bagi muslim yang tidak mampu mencukupi biaya hidup, mereka tidak wajib membayar zakat, sebaliknya, mereka malah harus diberikan zakat

Berdasarkan pada surat at Taubah ayat 58-60 tentang orang yang berhak menerima zakat, yaitu :

“… Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah bagi fakir miskin, para amil, para muallaf yang dibujuk hatinya, mereka yang diperhamba, orang-orang yang berutang, yang berjuang di jalan Allah, dan orang kehabisan bekal di perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Jadi berdasarkan firman Allah Swt tersebut, terdapat 8 golongan yang berhak menerima zakat :

  1. Fakir. Artinya adalah orang yang sangat kekurangan, kondisinya sangat miskin, tidak ada penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
  2. Miskin. Artinya adalah orang yang tidak mempunyai harta benda, serba kekurangan, kalaupun mempunyai penghasilan tidak mencukupi untuk memenuhi kebututhan sehari-hari.
  3. Amil. Artinya adalah orang yang bekerja dalam pengumpulan zakat dan pendistribusiannya. Amil zakat berhak memperoleh bagian sesuai dengan standar yang didasarkan pada kompetensi pekerjaannya, namun di harapkan paling tinggi sama dengan bagian golongan mustahik lain. Lebih baik lagi amil zakat adalah pihak yang sudah digaji oleh sumber dana bukan zakat.
  4. Muallaf. Artinya adalah orang yang mempunyai keyakinan atas Islam masih lemah, sehingga pembelaan terhadap Islam pun masih kurang bahkan tidak ada atau membantu musuh untuk memerangi Islam.
  5. Riqab (memerdekakan budak belian),  zakat tidak didistribusikan kepada budak belian, namun diberikan kepada tuannya sehingga budak belian tersebut menjadi bebas dan merdeka, termasuk dalam kegiatan ini adalah membebaskan tawanan muslim.
  6. Al-Gharim. Artinya adalah orang yang mempunyai utang dan tidak memiliki bagian lebih dari utangnya, baik untuk utang kemaslahatan dirinya maupun untuk kemaslahatan masyarakat.
  7. Fi Sabilillah. Artinya adalah jalan yang diridhai oleh Allah SWT, baik akidah maupun perbuatan. Orang yang menjadi sukarelawan untuk melakukan kegiatan ini dikatagorikan sebagai orang yang berada di jalan Allah SWT.
  8. Ibnu Sabil. Artinya adalah yang bepergian dalam rangka mencari bekal demi kemaslahatan umum, yang mamfaatnya kembali pada agama Islam atau masyarakat Islam. Seperti orang yang bepergian sebagai utusan yang bersifat keilmuan atau kegiatan yang di butuhkan oleh masyarakat Islam.[1]

[1] Mursyidi, Akuntansi Zakat…, hal 173-178.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s