Pengertian Zakat

fZakat adalah isim masdar dari kata zaka-yazku-zakah. Oleh karena kata dasar zakat adalah zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, baik, dan bertambah. Dengan makna tersebut, orang yang telah mengeluarkan zakat diharapkan hati dan jiwanya akan menjadi bersih, disamping itu, selain hati dan jiwanya bersih, kekayaannya akan bersih pula.[1]

Hasbi al-Shiddiqi mengutip pendapat Abu Muhammad Ibnu Qutaibah yang mengatakan bahwa lafadz zakat yang diambil dari kata zakah yang berarti nama’, yakni kesuburan dan penambahan.[2] Menurutnya bahwa syara’ memakai kata tersebut untuk dua arti, yaitu pertama, dengan zakat diharapkan akan mendatangkan kesuburan pahala. Karenanya, harta yang dikeluarkan itu dinamakan zakat. Kedua, zakat itu merupakan suatu kenyataan jiwa suci dari kikir dan dosa.[3]

Lembaga penelitian dan pengkajian masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung merinci lebih lanjut pengertian zakat yang ditnjau dari segi bahasa sebagai berikut:

  1. Tumbuh. Artinya, menunjukkan bahwa benda yang dikenai zakat adalah benda yang tumbuh dan berkembang biak (baik dengan sendirinya maupun yang diusahakan, lebih-lebih dengan campuran dari keduanya), dan jika benda tersebut sudah di zakati, maka ia akan lebih tumbuh dan berkembang biak, serta menumbuhkan mental kemanusiaan dan keagamaan pemiliknya dan penerimanya.
  2. Baik. Artinya menunjukkan bahwa harta yang dikenai zakat adalah benda yang baik mutunya, dan jika itu telah dizakati kebaikan mutunya akan lebih meningkat, serta akan meningkatkan kualitas muzakki dan mustahik nya.
  3. Berkah. Artinya menunjukkan bahwa benda yang dikenai zakat adalah benda yang mengandung berkah (dalam arti potensial). Ia potensial bagi perekonomian, dan membawa berkah bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya jika benda tersebut telah di bayarkan zakatnya.
  4. Suci. Artinya bahwa benda yang dikenai zakat adalah benda suci. Suci dari usaha yang haram, serta mulus dari gangguan hama maupun penyakit, dan jika sudah di zakati, ia dapat mensucikan mental muzakki dari akhlak jelek, tingkah laku yang tidak senonoh, dan dosa. Juga bagi mustahik nya.
  5. Kelebihan. Artinya benda yang dizakati merupakan benda yang melebihi dari kebutuhan pokok muzakki, dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pokok mustahik nya, tidaklah bernilai suatu zakat jika menimbulkan kesengsaraan bagi muzakki. Zakat bukan membagi-bagi atau meratakan kesengsaraan, akan tetapi justru meratakan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Berdasarkan pengertian diatas maka zakat mempunyai fungsi pokok sebagai berikut:

  1. Membersihkan jiwa muzakki
  2. Membersihkan harta muzakki
  3. Fungsi sosial ekonomi. Artinya, bahwa zakat mempunyai misi meratakan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam bidang sosial ekonomi. Lebih jauh dapat berperan serta dalam membangun perekonomian mendasar yang bergerak langsung ke sektor ekonomi lemah.
  4. Fungsi ibadah. Artinya, bahwa zakat merupakan sarana utama nomor tiga dalam pengabdian dan rasa syukur kepada Allah SWT.[4]

Sedangkan menurut istilah adalah zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan dan diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya (mustahik), apabila telah mencapai nishab/batas tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula.[5]

Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh  mengungkapkan beberapa definisi zakat menurut para ulama mazhab :

  1. Menurut Malikiyah, zakat adalah mengeluarkan bagian yang khusus dari harta yang telah mencapai nishabnya untuk yang berhak menerimanya, jika milik sempurna dan mencapai haul  selain barang tambang, tanaman dan rikaz.
  2. Hanafiyah mendefinisikan zakat adalah kepemilikan bagian harta tertentu dari harta tertentu  untuk pihak tertentu yang telah di tentukan oleh syari’(Allah swt) untuk mengharapkan keridhaannya.
  3. Syafi’iyyah mendefinisikan zakat adalah nama bagi sesuatu yang di keluarkan dari harta dan badan dengan cara tertentu.
  4. Hanafiah mendefinisikan zakat adalah hak yang wajib dalam harta terntentu untuk kelompok tertentu pada waktu tertentu.[6]

[1] Fakhruddin, Fiqh dan Manajemen  Zakat di Indonesia, Cet I, (Malang : UIN Malang Press, 2008), hal 13-14.

[2] Hasbi al-Shiddiqi, Pedoman Zakat, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 1975), hal 1

[3] Ibid

[4] Mursyidi, Akuntansi Zakat Kontemporer, Cet I, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hal 75-77.

[5] A Rahman , Zakat “Amunisi”Pengembangan…, 47

[6] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh , Jilid III, hal 1788-1789.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s