Sumber-sumber zakat dalam Islam

gAl-qur’an sebenarnya tidak secara jelas dan tegas menyatakan harta yang wajib di keluarkan zakatnya. Sunnah Nabilah yang menjelaskan lebih lanjut mengenai harta yang wajib dizakati dan jumlah yang wajib di keluarkan. Namun harus ada suatu prinsip dan suatu keyakinan bahwa apa-pun karunia Allah yang di berikan kepada kita harus ada yang mengalir kepada orang lain, apakah berupa zakat, infak atau sedekah. Jangan hendaknya ada pemikiran bahwa harta kekayaan yang tidak ada di sebutkan dalam fiqh lama, tidak di kenakan zakatnya. Hendaknya di pahami, bahwa para fukaha terdahulu menulis dan menuangkan buah pikirannya mengenai sesuatu yang ada di sekitarnya atau harta yang di anggapnya sebagai kekayaan yang pernah di ketahuinya.[1]

Berikut adalah sumber-sumber zakat konvensional yang terdapat dalam Al Qur’an, yaitu:

  1. Zakat Hasil Pertanian

Yang dimaksud dengan pertanian disini adalah bahan-bahan yang di gunakan sebagai makanan pokok dan tidak busuk jika di simpan, misalnya dari tumbuh-tumbuhan, yaitu jagung, beras, dan gandum. Sedangkan dari buah-buahan misalnya kurma dan anggur. Hasil pertanian, baik tanam-tanaman maupun buah-buahan , wajib dikeluarkan zakatnya apabila sudah memenuhi persyaratan.

  1. Zakat Hewan Ternak

Hewan ternak termasuk bagian dari harta yang wajib di keluarkan zakatnya. Namun demikian tidak semua hewan ternak dizakati. Para ulama sepakat bahwa hewan ternak yang termasuk bagian dari sumber zakat dan wajib di keluarkan zakatnya ada tiga jenis, yaitu unta, sapi dan domba.

  1. Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan atau zakat perniagaan adalah zakat yang dikeluarkan atas kepemilikan harta yang di peruntukkan untuk jual-beli. Zakat ini dikenakan kepada perniagaan yang di usahakan baik secara perorangan maupun perserikatan seperti, CV, PT, dan koperasi. Sedangkan aset-aset seperti mesin, gedung, mobil, peralatan dan aset tetap lain tidak kena kewajiban zakat dan tidak termasuk harta yang harus di keluarkan zakatnya.

  1. Zakat Emas dan Perak

Emas dan perak merupakan logam galian yang berharga dan merupakan karunia Allah SWT. Ia merupakan hasil bumi yang banyak mamfaatnya kepada manusia sehingga dijadikan pula sebagai nilai tukar uang bagi segala sesuatu. Pembahasan mengenai zakat emas dan perak perlu dibedakan antara sebagai perhiasan atau sebagai uang ( alat tukar). Sebagai perhiasan emas dan perak juga dapat dibedakan antara perhiasan wanita dan perhiasan lainnya, misalnya ukiran, souvenir, perhiasan pria dan lain-lain. Dangkalnya pemahaman fungsi emas dan perak sebagai alat tukar atau mata uang menyebabkan banyaknya simpanan uang dikalangan umat Islam tidak tertunaikan zakatnya.

  1. Zakat Barang Tambang

Zakat barang tambang adalah zakat yang berasal dari dalam (perut) bumi, cukup banyak jenisnya, menurut Ibnu Qudamah, contoh barang tambang adalah  emas perak, timah, besi, intan, batu permata, batu bara dan lain-lain. Barang-barang tambang yang cair seperti aspal, minyak bumi, belerang, gas dan sebagainya.[2]

Berikut adalah sumber-sumber zakat dalam perekonomian modern yang dapat dihimpun oleh lembaga zakat:

  1. Zakat Investasi

Investasi adalah penanaman modal atau uang dalam proses produksi (dengan pembelian gedung-gedung, permesinan, bahan cadangan, penyelenggaraan ongkos serta perkembangannya). Jadi zakat investasi adalah zakat yang dikenakan terhadap harta yang diperoleh dari hasil investasi, misalnya seperti yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian cadangan modal barang di perbesar sejauh tidak perlu ada modal barang yang harus di ganti.

  1. Zakat Profesi

Orang yang yang mengerjakan sesuatu (berolah raga, melukis, musik dan lain-lain), karena jabatan dan profesinya bukan hanya untuk kesenangan saja, tetapi merupakan suatu pencarian. Pada zaman sekarang ini orang mendapatkan uang dari pekerjaan atau profesi yang sedang di gelutinya. Jadi pekerjaan yang menghasilkan uang ada dua macam, pertama adalah pekerjaan yang di kerjakan sendiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain, seperti seorang dokter yang mengadakan praktek, pengacara, seniman, penjahit dan lain-lain. Kedua pekerjaan yang di kerjakan untuk orang (pihak) lain dengan imbalan mendapat upah atau honorium seperti pegawai (negeri atau swasta).

Kedua macam peke2rjaan tersebut jelas menghasilkan uang sebagai harta kekayaan. Dengan demikian wajib di keluarkan zakatnya karena telah mencapai satu tahun.

  1. Zakat Peusahaan

Pada saat ini hampir sebagian besar perusahaan dikelola tidak secara individual, melainkan secara bersama-sama dalam sebuah kelembagaan dan organisasi dengan manajemen yang moderen. Menururt para ahli ekonomi sekarang yang di kutip oleh Didin Hafidhuddin, paling tidak jenis perusahaan dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok, pertama perusahaan yang menghasikan produk-produk tertentu. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa, perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Jika dikaitkan dengan dengan kewajiban zakat maka semua perusahaan yang melakukan kegiatan perdagangan maka yang harus dihasilkan adalah produk yang halal, dan dimiliki oleh orang orang yang beragama islam.

  1. Zakat Saham dan Obligasi

Diantara hal-hal yang perlu mendapat perhatian untuk dikeluarkan zakat nya dalam harta modern ini adalah surat-surat berharga, diantara nya adalah saham (al-sahm) dan obligasi (al-sanadah) saham dan obligasi adalah kertas berharga yang berlaku dalam transaksi-transaksi perdagangan khusus yang disebut “bursa kertas-kertas berharga”. Dengan demikian saham dan obligasi adalah juga harta kekayaan dan setiap harta kekayaan ada hak orang lain di dalamnya.[3]

  1. Zakat Madu dan Produk Ternak

Madu adalah cairan yang keluar dari perut lebah. Tidak diragukan lagi bahwa madu mengandung berbagai macam kandungan gizi maupun obat bagi manusia. Madu yang keluar dari perut lebah merupakan anugrah dari Allah swt, yang salah satu fungsinya adalah sebagai obat bagi manusia. Dalam perspektif perekonomian modern sekarang, madu disamping di produksikan secara alami dan individual, kini dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi komoditas perdagangan. Karena itu, sangatlah wajar apabila dilihat pula dari kajiannya sebagai objek zakat.

  1. Zakat Asuransi Syari’ah

Islam memiliki sebuah sistem yang mampu memberikan jaminan atas kecelakaan atau musibah lainnya melalui sistem zakat. Bahkan sistem ini jauh lebih unggul dari asuransi konvensional karena sejak awal didirikan memang untuk kepentingan sosial dan bantuan kemanusiaan. Dana yang diberikan kepada setiap orang yang tertimpa musibah ini bersumber dari orang-orang kaya yang membayarkan zakatnya sebagai salah satu rukun Islam. Mekanisme asuransi konvensional yang dibuat adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi untuk memberikan kepada pesertanya sejumlah harta ketika terjadi bencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi), sebagai konsenkwensi/imbalan uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dari peserta. Jadi asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah, dana yang diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransinya.[4]


[1] M Ali Hasan, Puasa dan Zakat, Cet II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal 119

[2] Fakhruddin, Fiqh dan Manajemen  Zakat…, 90-124.

[3] M. Ali Hasan, Zakat dan Infak, Cet II, (Jakarta: Kencana, 2008) hal 78.

[4] [4] M Ali Hasan, Puasa dan Zakat…, 172-204.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s